MODUL AJAR
Panduan Lengkap Menyusun Modul Ajar Kurikulum Merdeka (Plus Contoh Praktis!)
MRidwanM
5/17/20262 min read


MODUL AJAR
Halo Bapak/Ibu Guru hebat!
Alat tempur utama kita kali ini bernama Modul Ajar. Banyak yang bilang Modul Ajar itu adalah "RPP yang ganti nama". Apakah benar begitu? Yuk, kita bedah tuntas biar tidak salah paham!
Apa Itu Modul Ajar?
Secara sederhana, Modul Ajar adalah dokumen yang berisi tujuan, langkah, media pembelajaran, serta asesmen yang dibutuhkan dalam satu unit atau topik pembelajaran berdasarkan Tujuan Pembelajaran (TP).
Modul Ajar vs RPP Tradisional:
Jika RPP jadul sering kali hanya berisi format administratif yang kaku, Modul Ajar di Kurikulum Merdeka dirancang lebih lengkap dan fleksibel. Modul Ajar dilengkapi dengan materi pembelajaran, lembar kerja siswa (LKPD), hingga instrumen remedial/pengayaan. Jadi, Modul Ajar adalah one-stop solution bagi guru saat masuk ke kelas.
Komponen Wajib dalam Modul Ajar
Pemerintah memberikan kebebasan bagi guru untuk berkreasi. Namun, secara umum, Modul Ajar yang ideal minimal memiliki 3 komponen utama berikut:
Informasi Umum: Identitas sekolah, nama guru, fase/kelas, alokasi waktu, Kompetensi Awal, dan Profil Pelajar Pancasila yang disasar.
Komponen Inti: Tujuan Pembelajaran, Pemahaman Bermakna, Pertanyaan Pemantik, Kegiatan Pembelajaran (Pembukaan, Inti, Penutup), dan Asesmen.
Lampiran: Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), bahan bacaan guru & siswa, glosarium, dan daftar pustaka.
Cara Membuat Modul Ajar Tanpa Ribet
Ambil 1 TP dari ATP Anda: Jangan serakah, satu Modul Ajar cukup fokus untuk menyelesaikan 1 atau 2 Tujuan Pembelajaran terdekat.
Rancang Asesmen di Awal: Sebelum bikin langkah penutup, tentukan dulu: Bagaimana cara saya tahu kalau murid sudah mencapai tujuan ini? (Bisa lewat kuis, performa, atau observasi).
Susun Aktivitas yang Menyenangkan: Buat langkah pembelajaran yang berpusat pada murid (student-centered).
Contoh Konkret Modul Ajar Sederhana :
Mari kita buat contoh Modul Ajar berdasarkan contoh ATP Matematika Fase A (Kelas 1 SD) yang pernah kita bahas sebelumnya.
INFORMASI UMUM
Nama Penyusun: [Nama Anda]
Instansi: SDN Merdeka Belajar
Fase / Kelas: A / Kelas 1
Mata Pelajaran: Matematika
Materi Pokok: Penjumlahan dengan Benda Konkret (TP 1.4)
Alokasi Waktu: 2 JP (2 x 35 Menit)
Profil Pelajar Pancasila: Mandiri dan Bernalar Kritis
KOMPONEN INTI
A. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik mampu melakukan operasi penjumlahan dua bilangan (hasil maksimal 20) menggunakan alat bantu benda konkret (seperti kelereng/sedotan) dengan tepat.
B. Pertanyaan Pemantik
"Ibu guru punya 3 permen di tangan kanan dan 2 permen di tangan kiri. Kalau digabung, permen Ibu jadi makin banyak atau makin sedikit? Berapa jumlah semuanya?"
C. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)
Guru membuka kelas dengan salam, doa, dan mengecek kehadiran murid.
Guru melakukan apersepsi dengan memberikan Pertanyaan Pemantik di atas menggunakan permen asli.
2. Kegiatan Inti (50 Menit)
Eksplorasi: Murid dibagi menjadi kelompok kecil (3-4 anak). Setiap kelompok diberikan 20 buah sedotan plastik.
Elaborasi: Guru menuliskan soal di papan tulis (Contoh: $5 + 4 = ...$).
Aksi: Murid di dalam kelompok menghitung 5 sedotan, lalu mengambil lagi 4 sedotan, kemudian menggabungkan dan menghitung totalnya bersama-sama.
Konfirmasi: Perwakilan kelompok maju ke depan untuk menunjukkan cara mereka menghitung. Guru memberikan penguatan.
3. Kegiatan Penutup (10 Menit)
Murid bersama guru menyimpulkan bahwa "penjumlahan berarti menggabungkan dua kelompok benda sehingga jumlahnya menjadi lebih banyak."
Guru melakukan refleksi singkat (menanyakan bagian mana yang paling seru).
Kelas ditutup dengan doa.
D. Asesmen (Penilaian)
Asesmen Formatif (Proses): Guru berkeliling membawa lembar observasi untuk melihat apakah murid bisa menghitung sedotan dengan runtut saat kerja kelompok.
Asesmen Sumatif (Akhir): Murid mengerjakan 3 soal cerita penjumlahan sederhana secara mandiri di lembar kertas.
Kesimpulan
Modul Ajar bukanlah dokumen yang dibuat untuk dinilai oleh Kepala Sekolah atau Pengawas saja, melainkan panduan operasional Anda sendiri agar proses mengajar di kelas menjadi lebih hidup, terukur, dan tidak mati gaya. Kuncinya adalah buatlah Modul Ajar yang realistis, sesuai dengan kondisi murid dan fasilitas di sekolah Anda.